Menjadi seseorang yang selalu
dibutuhkan dalam kebaikan adalah salah satu tujuan hidup. Menjadi salah satu
bagian dari orang lain merupakan ikatan alami yang semua orang lakukan satu
sama lain. Ketika kita menjadi bagian dari orang lain berkat kemampuan yang
kita miliki dalam kebaikan, maka kita menjadi berarti.
Dalam point ini, keberadaan kita
yang baik menjadi sebuah modal untuk mencapai tujuan. Namun, ketika menjalin
ikatan dengan orang lain untuk menjadi berarti, muncul pertanyaan-pertanyaan
yang sangat ingin tahu jawabannya. Apakah orang tersebut mengakui keberadaanku
yang sebenernya ? Apakah orang tersebut milikku ? Apakah orang tersebut pantas untuk kumiliki ?
Terlepas dari modal awal {orang
baik}, semua orang yang berlaku sebaliknya akan memikirkan pertanyaan tersebut
walau sekilas. Dan munculnya pertanyaan-pertanyaan itu tadi berasal dari rasa
ingin mendapatkan reward dari apa yang telah dilakukan sebelumnya, menyampaikan
hak. Dan bukan meminta balasan yang sepadan maksud dari semua pertanyaan itu,
manusia ialah pemilik hati yang selalu tak pernah puas. Wajar.
Lalu, apakah isyarat yang
sebenarnya Tuhan berikan bahwa bisa dibilang telah menemukan orang yang berarti
? Seseorang yang pantas kita miliki ? Jangan mengharap jawaban langsung
dariNya, Dia memiliki cara sendiri untuk memberi kebahagian. Tuhan tidak
menghadirkan seseorang yang kita inginkan, tapi ialah orang yang kita butuhkan,
orang yang akan menjadi sangat baik dan sangat buruk diwaktu yang sama untuk
menjadikan diri kita lebih dari yang bisa kita bayangkan. Point ini kita telah
bisa menentukan objek tujuan kita.
Sekarang, bagaimana dengan usaha
yang selama ini dilakukan ? Sejauh mana kita mencari ? Seberapa kuat kita bisa
menemukan orang itu ? Apakah masih mampu
bertahan ? Semakin banyak pertanyaan yang muncul. Dan pada saat menjajaki masa
di mana kita bertemu dengan seseorang yang membuat rasa nyaman, kita berusaha
menyamakan deskripsi yang kita buat sebelumnya, kita melakukan yang terbaik
yang bisa dlikakukan, kita berusaha untuk diakui, kita berusaha untuk menjadi
berarti. Dan seperti moment anak kecil yang mendapat boneka tercantik yang
pernah ada, dia tak ingin merusaknya, dia merawatnya dengan sangat baik, dia
membuat rumah yang besar dan megah agar boneka itu betah. Maka, itulah usaha
yang sedang kita lakukan, kita menganggap orang tersebut terlalu cepat, kita
terlalu cepat menumpahkan semua kepercayaan, kita terlalu cepat menaruh harapan
besar padanya. Kita lupa bahwa orang itu adalah boneka, yang sebenarnya hanya
meminta kasih sayang, hanya meminta keberadaanmu yang harus selalu ada, yang merasa
dirinya lah harus dibahagiakan. Sekarang, jangan menganggap kalimat di atas
sepenuhnya salah si boneka. Mari kita cermati lagi, keputusan kita menjadi
orang yang baik untuk si boneka adalah
ketidak mampuan kita mengendalikan diri. Terlalu baik, Mengakuinya atau tidak
kita masih berada di tahap mencari, bukan menemukan. Bukan.
Sebelumnya memang kita tidak
membahas batasan bahwa kita telah menemukan orang yang berarti tersebut seperti apa, kapan dan dimana.
Karena kita juga tidak memberi batasan pada diri kira untuk mencari.
-Sampai di sini dulu ulasan hari ini. Mari menata hati :)
