Warm
Bodies membawa pembaca untuk ikut hanyut ditiap kisah cinta, kegigihan, dan
keputus asaan. Adalah Perry Kelvin, salah satu aktor dalam novel ini,
karekternya menjadi sebuah sorotan tersendiri. Berbeda dengan R yang awalnya
tak bisa apa-apa diam dalam kutukan dan dengan terpaksa menurutinya, menjadi
“berubah” karena sebuah cinta dari gadis kecil, Julie.
Perry
adalah gandengan Julie sejak mereka bertemu di sekolah junior. Bumi mereka
menjadi terbengkalai, bobrok dan hancur karena serangan buruk dari populasi
makhluk gila, zombie. #Ya, zombie di zaman sekarang ini masih laris menjadi bahan
public.
Oke,
kembali pada Perry, sosoknya ini sangat membuatku geram pada setiap apa yang
dia pikirkan dan lakukan. Kehidupan Perry memang sulit, tapi hal yang paling sulit
untuk dipahami adalah keputus asaannya dan menyerah akan dunianya yang hancur.
Dia sungguh mudah menyerah, tak sama dengan yang lain, yang berusaha sekuat
tenaga meski hal kecil untuk mencoba mengintip masa depan dan mungkin bisa
menjalaninya dengan baik dari hari ini. Perry sungguh terbenam dalam
kesedihannya, kehilangan yang dialaminya telah merubah setiap pemikirannya yang
awalnya mencoba berjuang untuk kehidupan umat manusia dari serangan zombie.
Namun, akhirnya Perry benar-benar lelah dengan kehancuran, akhirnya dia
menyerah dan jatuh bersama dengan orang-orang cerobah yang menjadi santapan
zombie sangar.
Sebelum
kematian Perry, dia sering berpikir bahwa apa yang dia dan orang-orang hidup
lakukan untuk masa depan hanyalah sia-sia. Oleh karena itu, dalam pertempuran
terakhirnya dia lebih merasa sesuatu akan terjadi padanya hingga dia bisa
tenang. Benar saja, di tengah pertempuran dia luput untuk bertahan, jatuh
hingga akhirnya berakhir. Tapi, dia tidak menyesal dari bayangan yang R
katakan. Dia merasa dengan seperti itu dan menjadi bagian dari R semua
kehidupan bisa menapaki masa depan. R dan Julie. Perry percaya pada R untuk
bisa merubah segalanya.
Tapi
tak seharusnya Perry harus menyerah dan tak berkeyakinan, kepercayaannya kepada
R menjadi langkah besar. Dia bisa tetap bertahan dan ikut menyaksikan, bertukar
pikiran bersama dan bekerja sama melihat dunia baru.
Tapi,
aku bukan penulis dalam novel ini, aku hanya menilai betapa sayangnya apabila
sebuah keyakinan bisa hancur karena lelah dan merasa tak ada gunanya lagi.
Pesanku, jangan menjadi Perry yang itu, jadilah Perry yang bisa percaya diri.
